Senin, 18 Oktober 2021

Koneksi Antarmateri Modul 3.1

 KONEKSI ANTARMATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

 

A. Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara

1.        Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)

      Pendidik dalam hal ini guru merupakan teladan bagi para murid. Ketika guru membuat keputusan maka keputusan tersebut harus mampu menjadi tolok ukur dan contoh yang baik bagi para murid.

2.        Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/semangat/kemauan)

      Guru memberikan motivasi dan semangat kepada para murid untuk proses pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Dengan keputusan yang berpihak pada murid maka murid akan merasa lebih dihargai oleh guru dan secara tidak langsung hal tersebut akan melatih kepekaan dan motivasi murid untuk pengambilan keputusan dalam kehidupan mereka.

3.        Tut wuri handayani (dari belakang mendukung)

      Guru senantiasa mendorong murid untuk berani mengambil keputusan. Dengan memberikan prinsip merdeka belajar bagi para murid maka mereka akan memiliki kebebasan dan keleluasaan dalam menentukan pendapat dan menentukan sikap dalam pengambilan keputusan

      Dengan berdasarkan pratap triloka Ki Hajar Dewantara diharapkan kita mampu mengambil keputusan yang berpihak pada murid serta menciptakan situasi yang kondusif untuk menerapkan merdeka belajar bagi setiap murid

B. Prinsip Pengambilan Keputusan

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan karena untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting bagi kita sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan juga akan lebih jelas.

Sebagai contoh nilai kejujuran yang dimiliki seorang pendidik akan membuatnya mengarahkan pada prinsip pengambilan keputusan berdasarakan peraturan (rule-based thinking)karena dengan nilai kejujuran ini maka seorang pendidik akan cenderung mengikuti prinsip/aturan-aturan yang sudah ditetapkan.

Nilai tanggung jawab yang dimiliki seorang pendidik akan membuatnya mengarah pada prinsip pengambilan keputusan berdasarakan hasil akhir (end-based thinking) karena rasa tanggung jawab yang dimiliki membuatnya memikirkan konsekuensi dari keputusan dengan memperkirakan hasil akhir yang akan diharpakan dapat memberikan kebahagiaan bagi banyak orang.

Nilai kepedulian yang dimiliki oleh seorang pendidik akan membuatnya mengarah pada prinsip pengambilan keputusan berdasarkan rasa peduli (care-based thinking) karena kepedulian yang dimilikinya akan melibatkan diri nya untuk memikirkan kepentingan orang lain (empati).

Tidak ada benar atau salah pada jawaban atas berbagai kasus yang ada, selama pengambilan keputusan didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan anak, dan rasa tanggung jawab.

C. Coaching dan Pengambilan Keputusan

Keterampilan coaching membekali seorang guru menjadi pembelajar dan menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat berbagai opsi dari solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.

Kegiatan coaching ini akan menggali solusi dari dilema etika yang dihadapi dengan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan yang di dalamnya terdiri dari beberapa uji yaitu uji legal,uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran dan uji panutan. Dengan pertanyaan yang reflektif dalam coaching dapat menggali jawaban dari coach melalui beberapa uji untuk mengetahui keputusan yang diambil apakah sudah efektif atau belum.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik

Pembahasan studi kasus dilema etika dengan menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan. Dari 9 langkah tersebut, di tahapan awal sudah mengungkapkan nilai-nilai yang bertentangan dalam dilema etika yang dihadapi sehingga kita sudah bisa menganalisis nilai-nilai yang terlihat. Dari situ kita dapat menentukan paradigma dan prinsip pengambilan keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik.

 D. Pengambilan Keputusan

Keputusan yang diambil tidak ada benar atau salah pada jawaban atas berbagai kasus yang ada dalam dilema etika, yang penting keputusan tepat berbasis etika yaitu didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan anak, dan rasa tanggung jawab. Untuk membuat keputusan berbasis etika diperlukan kesamaan visi, budaya dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi, sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan juga akan lebih jelas. Jadi institusi atau sekolah yang terbentuk akan menjadi suatu lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman karena keputusan-keputusan yang diambil di sekolah tersebut sudah merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, yang membuat mereka aman dan nyaman.

E. Hambatan Pengambilan Keputusan

Kesulitannya yaitu terkait paradigma yang digunakan, sulitnya mengubah paradigma yang sudah menjadi kebiasaan di sekolah, di ubah sedikit demi sedikit ke paradigma yang sesuai dengan aturan atau kebenaran yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Memang dalam dilema etika tidak ada yang benar dan salah, tepi setidaknya keputusan yang diambil itu tepat dengan mempertimbangkan berbagai hal.

 

F. Pengaruh Pengambilan Keputusan dengan Pembelajaran

Keputusan yang diambil akan memerdekakan murid kita karena sesuai dengan Patrap Triloka yang masih digunakan paradigmanya dalam proses pembelajaran, harapannya kita dapat mewujudkan cita-cita Ki Hajar Dewantara yaitu Pendidikan yang memerdekakan. Keputusan dengan memperhatikan patrap triloka dalam pembelajaran pengaruhnya terhadap kemerdekaan belajar murid yaitu melalui semboyan Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/semangat/kemauan), Tut wuri handayani (dari belakang mendukung) akan membuat murid merdeka dalam belajar

G. Pengaruh pengambilan Keputusan dengan Masa Depan

Ketika seorang pemimpin pembelajaran mengambil sebuah keputusan tentunya sudah memikirkan paradigma, prinsip dan Langkah pengambilan keputusan yang tepat, sehingga ketika sudah menjadi prinsip-prinsip yang tertanam maka murid akan lebih mudah untuk mencontohnya dan akan menjadi bekalnya kelak di masa yang akan datang karena terinspirasi dari cara kita dalam mengambil suatu keputusan, hasil akhirnya terciptanya lingkungan  yang aman, nyama dan kondusif

H. Kesimpulan

Bahwa pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ada kaitannya dengan paradigma Ki Hajar Dewantara terkait Patrap Triloka yang menjadi dasar kita untuk mengambil keputusan, sangat erat juga dengan nilai dan peran kita sebagai guru penggerak ketika menganalisis nilai-nilai yang ada dalam suatu dilema etika, dengan cara coaching akan bisa kita menerapkan dan melatihkan proses pengambilan keputusan pada murid kita melalui 9 langkah pengambilan keputusan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif. Dari keterkaitan itu maka akan terbentuk lingkungan yang positif, aman, nyaman dan kondusif yang membuat murid akan merdeka dalam belajar sehingga dapat bermanfaat untuk bekalnya kelak ketika hidup dalam masyarakat.

Senin, 26 April 2021

koneksi antar materi modul 1.1

 

  • Tinjau kembali tugas personal kerangka pembelajaran yang telah dikembangkan pada fase Ruang Kolaborasi, Refleksi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual, dan Elaborasi Pemahaman. 
  • Buatlah sebuah kesimpulan dan penjelasan mengenai pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang Anda pelajari dalam modul ini. 

Pemikiran KHD mengenai Pendidikan : Pendidikan adalah proses menuntun anak agar memiliki budi pekerti yang baik. Pendidikan harus memperhatikan kodrat alam yaitu lingkungan dan watak bawaan anak. Juga harus memperhatikan kodrat zaman yaitu Pendidikan harus senantiasa bergerak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman.

Pendidikan merupakan pesemain benih-benih. Anak diibaratkan benih dan guru diibaratkan petani. Petani akan melaukan usaha yang maksima untuk menumbuhkan benih tersebut menjadi pohon yang berbuah lebat dan berkualitas tingi. Namun petani tida dapat merubah asal benih tersebut. Benih jagung akang tumbuh menjadi tanaman jagung, begitu pula benih padi akan tumbuh menjadi tanaman padi. Sebagaimana benih yang sama Ketika diperlakukan sama maka akan menghasilkan mutu yang beragam pula. Begitu pula anak, anak memiliki kodrat alam yang berbeda-beda. Dalam hal ini guru berperan sebagai penuntun agar anak dapat mencapai kodratnya yang bahagia.

Pendidikan menghamba kepada anak. Maksutnya adalah pembelajaran yang berpusat pada anak. Anak aktif dan kreatif untuk mengembangkan kemampuan mereka. Guru bertugas sebagai teman, fasilitator, pemberi saran dan membimbing, bukan sebagai pemerintah semata

Pendidikan menurut KHD merujuk pada asas trikon. Konvergensi terbuka terhadap pengetauan dari manapun. Menerima pengetauan dari manapun., bahkan dari luar negeri. Konsentris berpusat pada akar budaya bangsa seperti gotong-royong, ungga-ungguh, tepa selira. Kontinuitas yang dilaksakana secara terus menerus dari generasi ke generasi. Untuk mencapai Pendidikan yang diharapkan oleh KHD guru perlu melasanakan trilogy pendidikan yaitu :

1.    Ing ngarsa sung tulodho : guru di depan memberikan keteladanan

2.    Ing madya mangun karsa : guru ditengah memberikan semangat ide kreatif

3.    Tut wuri handayani : guru dibelakang memberikan dorongan kepada siswa.

  • Buatlah sebuah refleksi dari pengetahuan dan pengalaman baru yang Anda peroleh dalam modul ini dan perubahan diri yang yang Andal alami dan akan Anda praktekan di sekolah dan kelas Anda.

Pengetauan dan pengalaman baru yang saya peroleh adalah bahwa Pendidikan itu tidak lagi terpusat pada guru namun pada siswa sesuai kodratnya. Guru berperan sebagai penuntun. Saya akan menerapkan pembelajaran yang menyenangkan kepada siswa melaui banyak permainan dan nyanyian.

  • Ceritakan (konstruksikan kembali) proses pembelajaran dan suasana kelas yang mencerminkan pemikiran KH Dewantara secara konkret sesuai dengan konteks lokal sosial budaya di kelas dan sekolah Anda. 

Kelas kami adalah merupakan siswa kelas VI yang suda melaksanakan ujian sekolah. Kami sudah tidak melaksanakan pembelajaran untuk mendalami materi. Ditambah dengan masa pandemic yang mengurangi interaksi siswa di sekolah maka saya akan emmbuat tugas sosiodrama yaitu bermain peran di ruma masng-masing.

  • Kesimpulan dan refleksi disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, presentasi infografis, artikel dalam blog, dan lainnya

Refleksi dan kesimpulan akan kami saikan dalam bentuk infograis berupa poster.

 

  • Bacalah pertanyaan-pertanyaan panduan berikut untuk membantu Anda membuat kaitan tersebut.
  1. Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?

Murid harus disiplin untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Pendidikan di sekolah memiliki target kurikulum yang harus dicapai siswa. Dengan padatnya target kurikulum maka siswa harus lebih rajin dalam belajar. Dalam hal ini guru akan sedikit memaksa agar siswa mau berdisiplin. Agar siswa melaksanakan setiap perintah guru. Tujuan guru adalah untuk peningkatan nilai siswa sehingga mampu mencapai target kurikulum.

  1. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini? 

Setiap anak memiliki kodrat yang berbeda-beda, memiliki keunikan sendiri, memiliki bakat sendiri. Tugas guru adalah menuntun agar siswa mampu mengembangkan bakat tersebut dengan baik. Namun pembelajaran yang masih tetap harus memnuhi target kurikulum nasional terkadang guru mengabaikan kodrat alam tersebut demi pencapaian target.

Saya akan berusaha merubah pembelajaran yang dilakukan di kelas. Pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa melaui berbagai permainan yang disisipi materi pembelajaran sehingga target kurikulum dapat tercapai dengan perasaan anak yang gembira dan Bahagia.

  1. Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?

Hal yang dapat segera saya terapkan lebih  baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD adalah kegiatan pembelajaran yang menyenangkan anak. Pembelajaran yang di integrasikan dengan penggunaan teknologi. Misanya adalam sosiodrama. Sosiodrama merupakan kegiatan pembelajaran yang sudah kami musyawarahkan dalam proses kolaborasi. Sosiodrama ini merupakan wujud contoh dari profil pelajar Pancasila berkebhinekaan global. Berkebhinekaan global di sini akan saya terapkan dengan kegiatan bermain peran. Siswa akan bermain peran di rumah masing-masing. Tema permainan adalah unggah-ungguh atau tata krama terhadap orang yang lebih tua. Kemampuan globalnya akan diwujudkan dengan kemampuan anak dalam menggunakan piranti android untuk merekam kegiatan bermain tersebut untuk kemudian diunggah pada akun media social. Kumpulan karya anak-anak dapat dihimpun untuk di upload pada akun youtub dan dapat disaksikan oleh semua orang.

 

  • Unggahlah media informasi yang telah dibuat pada kegiatan ini.

 

Refleksi minggu kedua modul 1.1 PGP Ak 2

 

REFLEKSI MINGGU KEDUA

Minggu kedua saya mengikuti PGP. Materi yang kami pelajari adalah seputar dasar-dasar filosofis pemikiran Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Selama dua hari kami mengikuti kegiatan vicon. Vicon hari pertama merupakan kolaborasi dari tiap kelompok untuk menciptakan desain kerangka merdeka belajar. Vicon hari kedua merupakan kegiatan presentasi yang dilaukan oleh kelompok c1 dan c2 mengenai desain kerangka filosofis merdeka belajar. Masing-masing kelompok saling menanggapi dan memberikan pertanyaan untuk ditanggapi Kembali. Gari selautnya kami mendapat tugas untuk mengisi refleksi terbimbing pada LMS. Di dua hari terakhir kami mendapat tugas untuk membuat sebuah karya berupa video, komik, poster, puisi dan lainnya untuk menciptakan sebua karya demonstrasi kontekstual tentang pemikiran filosofis KHD.

Saya merasa sangat senang dapat mengikuti kegiatan ini. Saya dapat berkolaborasi dengan teman-teman CGP. Mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Dapat lebih akrab dan mengenal sesama teman CGP.

Hal positif yang saya dapatkan selama seminggu ini adalah bahwa berkolaborasi itu dapat meningkatkan kualitas hasil pekerjaan kita. Kita harus mau membuka pikiran kita jauh ke depan untuk menyerap berbagai pengalaman dan ilmu dari oranglain. Hal positif yang lain adala bahwa mengerjakan tugas tepat waktu akan sangat membantu kami dalam menyelesaikan setiap tugas dalam modul-modul PGP ini.

Hambatan yang ada selama mengikuti kegiatan vicon diantaranya adalah sinyal yang kadang kurang bersahabat. Tupoksi kami sebagai guru dengan tugas yang beragam kadang membuat kami harus berkejaran dengan waktu agar semua tugas dapat diselesaikan dengan baik. Hambatan selanjutnya adalah kolaborasi secara daring yang masih berasa sedikit sulit bagi saya.

Setelah kami mengalami hal itu semua maka kami mengambil langkah untuk tetap berkomunikasi dengan baik di dalam sebuah WAG kelompok kelas kami.

Inti dari refleksi minggu kedua adalah kami merasa luar biasa dengan pengalaman yang sangat baru ini. Kami berharap semoga dapat melaksanakan semua kegiatan dan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan pada setiap sub modulnya. Terimakasih kepada Pak Mentri atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk terus belajar dan bergerak demi kemajuan Pendidikan di Indonesia.

Salam dan Bahagia

Guru bergerak, Indoneia maju!

 

Hasil webinar filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara ( PGP Angkatan 2 )

 

1.        momen paling diingat saat di taman siswa?

Ki priyo : lahir di pendopo taman siswa. Orangtuanya pamong. Ki priyo dan KHD satu halaman. KHD berkeliling mengamati guru.

Ilmu bumi : guru sedang menyuruh ssiwa menggambar peta. KHD bisik-bisik, anak2 keluar. Anak2 membuat peta jawa dengan pasir. Anak-anak menunjuk nama kota dengan batu.( BELAJAR DENGAN BERMAIN )

Bermain : kodrat anak-anak. Belajar dg system among dan merdeka.

Alfabet dengan tembang.

2.       Tahun itu ki dahlan jg sdh ada ( senior)  tidak diangkat kenapa malah ki hajar?

Karena ki hajar multicultural

Ki dahlan mayoritas islam.

KHD pulang dr tawanan di belanda. Berkonsultasi dengan Ki dahlan. Ki dahlan sdh mendirikan Pendidikan islam. KHD mendirikan yang nasional saja, itu saran dari ki dahlan.

Awalnya KHD terjun di dunia politik namun Kembali di tangkap. Akhirnya beralih ke pendidikan

Pesan dari istrinya yang sedang melahirkan

‘’ kangmas ingat pesan ki dalan untuk mendirikan perguruan nasional” bertepatan dengan kelairan putrinya  RATIH TARBIYAH ( agar kuat )

PUTRA-PUTRI KHD

1.       SUTAPI ASTI WANDANSARI ( balita yang mengganggu ayanya sedang menulis, KHD diangkat ditaruh teras. Ia lupa bahwa itu di belanda musim dingin. Sehingga anak tersebut perkembangan otaknya mengecil.(abnormal)

Nyi asti sampai usia 99 th. Dirawat oleh Yayasan taman siswa

PENDIDIKAN MENGHAMBA PADA ANAK ( bukti penyesalam KHD terhadap putrinya)

Ny asti jika mendengar nyanyian beliau merespon dengan mengangguk. Terkadang para pengamat sampai menangis

Belajar berdasar asas kekeluargaan. Kesalahan anak bukan dosa. Tapi harus diluruskan.

Kelebihan asrama : Pendidikan 24 jam

2.       Apakah filosofi KHD masih relevan dengan Pendidikan saat ini? Apa yang perlu diterapkan

Filosofi KHD berlaku sepanjang masa. Metode ki hajar TRIKON berlau selamanta ( konsentris, kontinuitas, dan konvergensi)

Pendidikan it uterus bergerak sesuai kodrat dan kemauan zaman.

PERTANYAAN :

KIAT-KIAT AGAR SEDIKIT MENIRU KHD

1.       KHD anti tabularasa ( anak lembaran putih ) yang mengisi adalah guru, orangtua dan lingkungan

2.       KHD : anak sudah punya talenta, bakat, garis2, kewajiban guru mengetaui minat bakatnya

TRILOGI : ING NGARSA SUNG TULADHA, ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI.

MENGAPA YANG DIGAUNGKAN ADALAH TUT WURI HANDAYANI?

Asa itu manfaat bagi bangsa. Sudahlam trilogy kepemimpinan yang diambil adalah tut wuri handayani.handayani ( ativ mencari tahu)

Banyak kurikulum dari asing ( Montessori, Frobel,rabendranath  tagor) ambbilah metode dari KHD ( taman siswa)

KHD menjadi rujukan d Finlandia

KHD : konvergen : mengambil budaya dr luar

Konsentris : terpusat pada budaya kita( Gotong royong, mufakat)

Membentuk murid yang humanis selamat dan bahagia

Kontinyu : dari generasi ke generasi

 

MEMAKNAI PEMIKIRAN FILOSOFIS KHD

IBU KARTIKA SD SD EKSPERIMENTAL MANGUNAN

Kurikulum adala anak, sekola adalah rumahku

Pohon kurikulum mangunwijaya

7 hal yang dikembangkan sekolah mangunwijaya

1.       Karakter

2.       Bahasa

3.       Orientasi diri

4.       Logika kuantitatif ( mtk)

5.       Peranti/hukum alam( alat bantu)

6.       Kerjasama

7.       Olahraga

Prinsip KHD : paguron/taman siswa/ asrama à agar anak senang belajar

 

Kamis, 18 Juni 2020

BELAJAR BIKIN KOMIK


hai sobat belajar!
komik merupakan bahan bacaan yang menarik untuk dinikmati oleh semua kalangan, anak-anak sampai dewasa.
komik dapat kita aplikasikan sebagai media belajar anak-anak.
berikut langkah membuat komik sederhana.
1. mendonlod aplikasi komik
2. membuat storyline
3. mengambil gambar
4. mengkreasikan ide

contoh story line
MEDIA PEMBELAJARAN KOMIK
TOPIK “Gaya dan gerak”
Oleh : Khoiriyah

Target Pembaca: Kelas 5 SD

Tujuan Pembelajaran:
Menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang konsep gaya dan gerak, sifat-sifat gaya dan beberapa contoh sifat gaya dalam kehidupan sehari-hari
Nama Tokoh: Agus dan Rama

Sinopsis / Deskripsi
Agus, Rama dan teman-teman sedang bertanding sepakbola. Agus menendang bola dengan kuat sehingga kelompok Agus mampu memenangkan pertandingan. Rama kagum dengan tendangan Agus kemudian terjadilah percakapan yang seru antara Agus dan Rama


Panel
(Slide)
Storyline
 (Alur Cerita)
Tokoh
(Karakter)
Aset Visual
(Dialog & Foto)
Keterangan / Narasi
0
Judul komik:
Gaya dan Gerak

Dialog:

Aset Visual:
Tulisan gaya dan gerak

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:


1.
Anak-anak bertanding sepakbola
Anak-anak
Dialog:

Aset Visual:
Foto anak-anak bermain bola di halaman sekolah

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:
Wide shoot, eye view

Pada suatu pagi di halaman sekolah
2.
Agus menendang bola dengan keras
Agus
Anak-anak
Dialog:
Agus : Ciatttt
Anak-anak : Gool !!!horree!!

Aset Visual:
Foto Agus menendang bola sehingga bola melambung
Fisual efek : boo!

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:
Wide shoot, eye view

3.
Rama bertanya kepada Agus betapa Agus hebat sehingga mereka memenangkan pertandingan
Agus dan rama
Dialog:
Rama : Kamu hebat Gus, tendangan mautmu membuat tim kita menang
Agus : Ahh biasa saja Ma, karena aku menggunakan gaya yang besar
Rama : Gaya? Apa itu Gus?
Agus : ada kok di buku pelajaran , yuuk kita ke kelas!

Aset Visual:
Foto 2 tokoh berdialog

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:
Medium shot, eye view
Beberapa saat kemudian
4
Agus dan Rama masuk kelas
Agus dan Rama
Dialog:

Aset Visual:
Foto 2 tokoh berjalan membuka pintu masuk ke kelas

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:
Wide  shot , eye view
Agus dan rama masuk ke kelas
5
Agus menunjukkan buku kepada Rama
Agus dan Rama
Dialog:
Agus : Ini lho Ma, di buku ada penjelasan mengenai gaya secara lengkap
Rama : Coba aku lihat, Gus!

Aset Visual:
Foto 2 tokoh memegang buku

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:
wide shot, eye view

6
Agus dan Rama duduk bersama membuka buku
Agus dan Rama
Dialog:
Rama : Dimana Gus?
Agus : Pada buku IPA tema 2 sub tema 3 halaman 127.
Agus : Oh iya…ya…Kita bisa mempelajari gaya dengan lengkap di sini.
Agus : Iya, tentu..nanti kalau kita masih bingung mengenai gaya kita bisa bertanya kepada bu guru

Aset Visual:
Foto 2 tokoh duduk bersama membuka buku

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:
Medium shot, eye view
Akhirnya Agus dan Rama mulai membuka buku
7
Quizz
Bu guru
Dialog:
Yuk mengerjakan soal
Sebutkan sifat-sifat gaya dan berikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari

Aset Visual:
Foto bu guru
Tulisan : By Bu Choir
Tulisan : quizzz

Tipe Pengambilan Gambar/Angle:
Close up

7





contoh komiknyaa
https://drive.google.com/file/d/1Ip1Ppi7_5csyfYkBO7nwk2nuLEWZlOUk/view?usp=sharing